- Dilarang meniru tanpa bekal latihan dasar beladiri.
- Dilarang meniru tanpa pengawasan ahli.
- Dilarang meniru tanpa pengawasan ahli.
Street Fighting
(disebut juga “Brawling”, “Dirty Boxing”, dan “Pit Fighting”) adalah olahraga
tarung bebas yang kontroversial, olahraga ini pertama kali muncul di kalangan
geng motor Amerika, dimana para anggota geng bertarung satu lawan satu di
halaman yang cukup luas, tujuannya untuk melatih fisik dan bersenang-senang. Street
fighting sebenarnya lebih mengarah pada Bare Knuckle Boxing, namun tekniknya ditambah
sedikit tendangan dan hantaman jarak rapat yang dilarang dalam pertandingan
Boxing resmi. Aturan Street Fighting sangat sederhana, yaitu kedua petarung saling
hajar hingga salah satu menyerah.
Istilah “Street
Fighting” sebenarnya ditujukan untuk tindak kekerasan di jalanan (perkelahian
satu lawan satu hingga tawuran), namun kalangan penyuka tarung bebas lebih suka
memakai istilah “Street Fighting” untuk menyebutkan nama olahraga tarung bebas yang
mereka geluti. Olahraga tarung bebas ini juga tak luput dari kontroversi,
Street Fighting memang berhubungan erat dengan dunia hitam, banyak sekali
preman dan gangster yang kerap melakukan aksi tarung bebas liar (Underground
Fighting) untuk judi.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh artinya adalah semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian. Tulisan dalam bahasa Arab:
السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ
Salam memiliki makna yang substansial, esensial dan mendalam bagi umat Islam. Kalimat salam tidak hanya digunakan sebagai tradisi menegur sapa saja, tetapi mengandung filosofi bahwa umat Muslim harus saling mendoakan dan tidak saling membenci.
Sapaan salam biasanya dijawab juga dengan salam dengan kalimat: waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh artinya adalah Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada kalian. Tulisan dalam bahasa Arab:
ÙˆَعَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ لسَّلاَÙ…ُ ÙˆَرَØْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ
Betapa indahnya ajaran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk tidak saling bermusuhan, tidak saling membenci melalui salam sapa yang memiliki arti, makna dan filosofi perdamaian.
Cendekiawan jebolan IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN Walisongo Semarang), Lismanto dalam tulisan ilmiahnya, Teologi Islam Damai yang terbitkan Jurnal Justisia Edisi 40 Tahun 2013, mengatakan, assalamualaikum adalah simbol sapaan bagi umat Islam memiliki arti kedamaian atau kesejahteraan.
Assalamualaikum (عليكم السلام) yang berarti kedamaian atau kesejahteraan, atau dalam bahasa Ibrani: shalom aleichem yang memiliki arti serupa: kedamaian. Inilah sebenarnya ajaran sederhana yang sangat “tua” yang menjadi inti dari segala inti ajaran agama. Dengan demikian, saya dapat katakan bahwa perdamaian merupakan basis dari teologi Islam, termasuk teologi agama-agama di dunia. (Lismanto, 2013: 79)
Senada dengan itu, budayawan Ehma Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah mengemukakan bahwa kalimat salam memiliki arti dan makna yang mengikat, kita sebagai pengucap salam berjanji tidak akan memusuhi atau melukai baik dalam perkataan maupun perbuatan kepada seseorang yang diberikan salam.
Begitu juga dengan orang yang membalasnya dengan salam. Dia secara hakiki juga terikat dengan berjanji tidak akan berbuat jahat dalam perkataan atau perbuatan, karena sudah menjawab salam.
Sayangnya, banyak ucapan salam Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh yang artinya sangat mulia dan menjadi substansi Islam itu sendiri justru hanya sebatas menjadi tradisi kalimat tegur sapa saja, tidak dimaknai dari hati yang paling dalam bahwa ucapan salam berarti berjanji tidak akan melukai baik dalam perbuatan, lisan maupun pikiran.
Jadi, banyak orang yang mengucap salam hanya di lisan, ucapan, tapi tidak diresapi dalam hati dan pikirannya, sehingga masih banyak orang yang membenci seseorang lainnya meskipun sudah mengucapkan salam. Padahal, jika sudah mengucapkan salam, mestinya tidak benci lagi karena sudah memberikan teguran keselamatan, rahmat dan berkah.
Sebagai gambaran begini. Anda sudah memberikan salam kepada tetangga Anda. Itu artinya, Anda sudah menjamin bahwa tetangga Anda selamat baik dari doa maupun pikiran, ucapan dan perbuatan Anda.
Nah, kalau Anda sudah memberikan ucapan salam kepada tetangga Anda dan dibalas dengan salam pula, maka jika Anda suatu ketika berbuat jahat kepadanya (baik itu dalam bentuk iri, dengki, menyebar gosip atau fitnah, guna-guna, santet atau memukul), maka ucapan salam yang pernah Anda ucapkan tidak ada gunanya. Artinya, Anda adalah orang munafik dan jauh dari Islam.
Kenapa? Lha sudah berjanji memberikan keselamatan, kok masih saja benci dan jahat kepada seseorang yang diberikan salam? Bukankah itu munafik namanya?
Maka, sebagai umat Muslim yang selalu berusaha meneladani ajaran Rasulullah Muhammad Saw, kita biasakan mengucapkan salam kepada seseorang tidak hanya sebagai tradisi tegur sapa saja, tetapi juga diresapi dalam hati yang penuh dengan keikhlasan. Bahwa ucapan salam berarti mendoakan dan janji kita untuk memberikan keselamatan kepada orang lain sesama Muslim.
Dengan demikian, ucapan salam tidak sebatas di mulut saja yang membuat Anda terkesan islami, saleh dan salehah, tetapi tidak mengimplementasikan arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Pembaca setia Islamcendekia.com yang kami muliakan, semoga artikel tentang Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dalam tulisan bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.
Lirik lagu terbaru PSHT 1922
Mekarlah bunga teratai di jiwamu tanamkan rasa persaudaraan hingga nanti.
Bersama dengan hati bersinar di dada selamanya hingga hancurnya semesta.
Selama bumi ini masih berpenghuni di situ kami akan tetap berdiri. Karena kami adalah saudara terikat satu sumpah bersama.
Berpijak
di atas kesetiaan hati bersatu mengarungi hidup ini. Tanpa pembeda ke
seluruh pelosok negeri saling menjaga dan saling melindungi. Saling
melenkap melambangkan persaudaraan kekal dan abadi.
Air putih simbol bahwa semua manusia akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Manusia dapat di hancurkan manusia dapat di matikan tetapi manusia tidak dapat di kalahkan selama setia pada hatinya.
Mekarlah bunga teratai di jiwamu tanamkan rasa persaudaraan hingga nanti.
Bersama dengan hati bersinar di dada selamanya hingga hancurnya semesta.
Moggo di share.
Sepertinya
topik ini sangat jarang atau mungkin kurang menarik untuk di angkat
menjadi topik sebuah blog atau artikel. Tetapi perjalanan saya ke bali
kemarin memberikan inspirasi bagi saya untuk menulis tentang “sabuk”
atau lebih di kenal dengan “grading” dalam beladiri. Wajah
bahagia murid-murid saya yang baru mendapatkan promosi menjadi motivasi
saya untuk menulis, tanpa saya sadari saya pun teringat ketika pertama
kali saya mendapatkan promosi dalam pelatihan bela diri. Rasanya memang
luar biasa..tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata.. rasa bangga itu
terus melekat dalam diri saya sampai hari ini. Sabuk dalam bela diri itu
seperti “naik kelas” , setelah sekian lama berkutat dengan “pelajaran”
yang sama akhirnya “lulus" dan berhak untuk melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi.
Dalam berlatih beladiri, saya tidak pernah menjadikan sabuk sebagai tujuan saya. Tujuan utama saya adalah menjadi lebih ahli dalam beladiri tersebut. Royce Gracie pernah berkata “ a black belt only covers two inches of your ass, you have to cover the rest”
yang arti bahasa indonesianya kira - kira seperti ini “ sabuk hitam
hanya menutupi 2 inci dari pantat anda, anda harus menutupi sisanya
sendiri ” yah, tentunya sabuk hitam harus ditutupi dengan keahlian
anda. Namun perlu saya akui, setiap kali saya mendapat promosi sabuk
dari pelatih saya, saya merasa sangat bahagia. Saya merasa berbahagia
karena saya mendapatkan penghargaan dari pelatih saya bahwa keahlian
saya telah meningkat, bahwa menurut penilaian beliau, saya telah
mencapai titik baru dalam kemampuan saya.
Fungsi sabuk di beladiri menurut saya,
1.Fungsi utamanya adalah untuk menandakan ada di titik mana keahlian seseorang.
2.Sabuk bisa menjadi motivasi seseorang untuk berlatih mencapai tingkatan tertentu.
3.Simbol senioritas.
Ada beberapa kriteria dalam memberikan promosi sabuk. Menggunakan
sistem pertandingan, apabila seseorang aktif mengikuti pertandingan dan
sering memenangkan kejuaraan maka ia akan mendapatkan promosi sabuk.
Ada juga yang menggunakan cara sparing atau sering di sebut “rolling”
, seseorang akan di promosikan apabila ia bisa menerapkan tekniknya
dalam sesi sparing/rolling. Atau cara yang paling umum, yaitu ujian. Yes,
ujian. Layaknya ujian sekolah. Dalam ujian tersebut, si murid akan di
tunjuk dan di haruskan memperagakan teknik yang di sebutkan oleh sang
penguji. Atau bisa juga dengan cara berdasarkan subjektifitas pelatih.
Cara-cara tersebut di atas memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Saya akan coba menjelaskan secara singkat,
1.Pertandingan
Apabila aktif mengikuti pertandingan dan memenangkannya maka ia akan dengan cepat mendapatkan promosi sabuk. Orang seperti ini ujiannya di “medan tempur” atau sebutan keren saya “let the mat be the judge”. Namun tidak semua orang bisa mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Hanya orang-orang berbakatlah yang bisa menggunakan cara ini untuk promosi.
2.Sparing/Rolling
Dalam BJJ, teknik dari sabuk putih sampai dengan hitam sebenarnya sama saja. Yang membedakan adalah efisiensi,timing, dan membaca lawan. Seorang sabuk putih mungkin memerlukan 10 langkah untuk melakukan sebuah kuncian, tetapi seorang sabuk hitam hanya memerlukan 1 langkah. Sebagai seorang pelatih tentunya dapat menilai apabila seseorang ini pantas mendapatkan promosi hanya dengan mengajak si murid sparing.
3.Ujian
Cara ini adalah cara paling umum dan cara tertua dalam semua aliran bela diri. Dalam cara ini, biasanya si murid akan di beritahukan untuk mempelajari semua gerakan yang akan di ujikan. Kemudian akan di tunjuk dan harus memperagakan gerakan tersebut. Dan penilaiannya hanya ada dua. Lulus atau tidak lulus.
4.Subjektifitas
Subjektifitas ini tidak ada tolak ukur pasti. Semua tergantung dari penilaian sang pelatih. Subjektifitas bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada sang pelatih. WHY? karena apabila pelatih tersebut memiliki standart yang rendah, maka kualitas muridnya pun akan kurang.
Saya pribadi, lebih suka menggunakan cara yang terakhir, tolak ukur yang saya gunakan adalah pertandingan, sparing, ujian, dedikasi, dan tingkah laku seseorang murid. Yes! Benar saya sangat “old fashioned” dalam hal ini, karena menurut saya dedikasi dan tingkah laku seseorang sangat penting, karena bela diri itu seperti memiliki “super power”. Seseorang bisa mengalahkan orang lain dengan ilmu bela dirinya, “with great power comes great responsibility” karena dari itu saya sangat memperhatikan tingkah laku sebelum menerima atau mempromosikan seorang murid.
Well, sepertinya pembahasan saya sudah cukup panjang. Sekian untuk blog kali ini. Semoga bermanfaat. Dan saran saya, teruslah berlatih, janganlah mudah menyerah, janganlah menjadikan sabuk sebagai tujuan dalam pelatihan. Tetapi berlatihlah dengan sepenuh hati, promosi akan datang dengan sendirinya.
Apabila aktif mengikuti pertandingan dan memenangkannya maka ia akan dengan cepat mendapatkan promosi sabuk. Orang seperti ini ujiannya di “medan tempur” atau sebutan keren saya “let the mat be the judge”. Namun tidak semua orang bisa mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Hanya orang-orang berbakatlah yang bisa menggunakan cara ini untuk promosi.
2.Sparing/Rolling
Dalam BJJ, teknik dari sabuk putih sampai dengan hitam sebenarnya sama saja. Yang membedakan adalah efisiensi,timing, dan membaca lawan. Seorang sabuk putih mungkin memerlukan 10 langkah untuk melakukan sebuah kuncian, tetapi seorang sabuk hitam hanya memerlukan 1 langkah. Sebagai seorang pelatih tentunya dapat menilai apabila seseorang ini pantas mendapatkan promosi hanya dengan mengajak si murid sparing.
3.Ujian
Cara ini adalah cara paling umum dan cara tertua dalam semua aliran bela diri. Dalam cara ini, biasanya si murid akan di beritahukan untuk mempelajari semua gerakan yang akan di ujikan. Kemudian akan di tunjuk dan harus memperagakan gerakan tersebut. Dan penilaiannya hanya ada dua. Lulus atau tidak lulus.
4.Subjektifitas
Subjektifitas ini tidak ada tolak ukur pasti. Semua tergantung dari penilaian sang pelatih. Subjektifitas bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada sang pelatih. WHY? karena apabila pelatih tersebut memiliki standart yang rendah, maka kualitas muridnya pun akan kurang.
Saya pribadi, lebih suka menggunakan cara yang terakhir, tolak ukur yang saya gunakan adalah pertandingan, sparing, ujian, dedikasi, dan tingkah laku seseorang murid. Yes! Benar saya sangat “old fashioned” dalam hal ini, karena menurut saya dedikasi dan tingkah laku seseorang sangat penting, karena bela diri itu seperti memiliki “super power”. Seseorang bisa mengalahkan orang lain dengan ilmu bela dirinya, “with great power comes great responsibility” karena dari itu saya sangat memperhatikan tingkah laku sebelum menerima atau mempromosikan seorang murid.
Well, sepertinya pembahasan saya sudah cukup panjang. Sekian untuk blog kali ini. Semoga bermanfaat. Dan saran saya, teruslah berlatih, janganlah mudah menyerah, janganlah menjadikan sabuk sebagai tujuan dalam pelatihan. Tetapi berlatihlah dengan sepenuh hati, promosi akan datang dengan sendirinya.










