Lirik lagu terbaru PSHT 1922
Mekarlah bunga teratai di jiwamu tanamkan rasa persaudaraan hingga nanti.
Bersama dengan hati bersinar di dada selamanya hingga hancurnya semesta.
Selama bumi ini masih berpenghuni di situ kami akan tetap berdiri. Karena kami adalah saudara terikat satu sumpah bersama.
Berpijak
di atas kesetiaan hati bersatu mengarungi hidup ini. Tanpa pembeda ke
seluruh pelosok negeri saling menjaga dan saling melindungi. Saling
melenkap melambangkan persaudaraan kekal dan abadi.
Air putih simbol bahwa semua manusia akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Manusia dapat di hancurkan manusia dapat di matikan tetapi manusia tidak dapat di kalahkan selama setia pada hatinya.
Mekarlah bunga teratai di jiwamu tanamkan rasa persaudaraan hingga nanti.
Bersama dengan hati bersinar di dada selamanya hingga hancurnya semesta.
Moggo di share.
Sepertinya
topik ini sangat jarang atau mungkin kurang menarik untuk di angkat
menjadi topik sebuah blog atau artikel. Tetapi perjalanan saya ke bali
kemarin memberikan inspirasi bagi saya untuk menulis tentang “sabuk”
atau lebih di kenal dengan “grading” dalam beladiri. Wajah
bahagia murid-murid saya yang baru mendapatkan promosi menjadi motivasi
saya untuk menulis, tanpa saya sadari saya pun teringat ketika pertama
kali saya mendapatkan promosi dalam pelatihan bela diri. Rasanya memang
luar biasa..tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata.. rasa bangga itu
terus melekat dalam diri saya sampai hari ini. Sabuk dalam bela diri itu
seperti “naik kelas” , setelah sekian lama berkutat dengan “pelajaran”
yang sama akhirnya “lulus" dan berhak untuk melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi.
Dalam berlatih beladiri, saya tidak pernah menjadikan sabuk sebagai tujuan saya. Tujuan utama saya adalah menjadi lebih ahli dalam beladiri tersebut. Royce Gracie pernah berkata “ a black belt only covers two inches of your ass, you have to cover the rest”
yang arti bahasa indonesianya kira - kira seperti ini “ sabuk hitam
hanya menutupi 2 inci dari pantat anda, anda harus menutupi sisanya
sendiri ” yah, tentunya sabuk hitam harus ditutupi dengan keahlian
anda. Namun perlu saya akui, setiap kali saya mendapat promosi sabuk
dari pelatih saya, saya merasa sangat bahagia. Saya merasa berbahagia
karena saya mendapatkan penghargaan dari pelatih saya bahwa keahlian
saya telah meningkat, bahwa menurut penilaian beliau, saya telah
mencapai titik baru dalam kemampuan saya.
Fungsi sabuk di beladiri menurut saya,
1.Fungsi utamanya adalah untuk menandakan ada di titik mana keahlian seseorang.
2.Sabuk bisa menjadi motivasi seseorang untuk berlatih mencapai tingkatan tertentu.
3.Simbol senioritas.
Ada beberapa kriteria dalam memberikan promosi sabuk. Menggunakan
sistem pertandingan, apabila seseorang aktif mengikuti pertandingan dan
sering memenangkan kejuaraan maka ia akan mendapatkan promosi sabuk.
Ada juga yang menggunakan cara sparing atau sering di sebut “rolling”
, seseorang akan di promosikan apabila ia bisa menerapkan tekniknya
dalam sesi sparing/rolling. Atau cara yang paling umum, yaitu ujian. Yes,
ujian. Layaknya ujian sekolah. Dalam ujian tersebut, si murid akan di
tunjuk dan di haruskan memperagakan teknik yang di sebutkan oleh sang
penguji. Atau bisa juga dengan cara berdasarkan subjektifitas pelatih.
Cara-cara tersebut di atas memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Saya akan coba menjelaskan secara singkat,
1.Pertandingan
Apabila aktif mengikuti pertandingan dan memenangkannya maka ia akan dengan cepat mendapatkan promosi sabuk. Orang seperti ini ujiannya di “medan tempur” atau sebutan keren saya “let the mat be the judge”. Namun tidak semua orang bisa mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Hanya orang-orang berbakatlah yang bisa menggunakan cara ini untuk promosi.
2.Sparing/Rolling
Dalam BJJ, teknik dari sabuk putih sampai dengan hitam sebenarnya sama saja. Yang membedakan adalah efisiensi,timing, dan membaca lawan. Seorang sabuk putih mungkin memerlukan 10 langkah untuk melakukan sebuah kuncian, tetapi seorang sabuk hitam hanya memerlukan 1 langkah. Sebagai seorang pelatih tentunya dapat menilai apabila seseorang ini pantas mendapatkan promosi hanya dengan mengajak si murid sparing.
3.Ujian
Cara ini adalah cara paling umum dan cara tertua dalam semua aliran bela diri. Dalam cara ini, biasanya si murid akan di beritahukan untuk mempelajari semua gerakan yang akan di ujikan. Kemudian akan di tunjuk dan harus memperagakan gerakan tersebut. Dan penilaiannya hanya ada dua. Lulus atau tidak lulus.
4.Subjektifitas
Subjektifitas ini tidak ada tolak ukur pasti. Semua tergantung dari penilaian sang pelatih. Subjektifitas bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada sang pelatih. WHY? karena apabila pelatih tersebut memiliki standart yang rendah, maka kualitas muridnya pun akan kurang.
Saya pribadi, lebih suka menggunakan cara yang terakhir, tolak ukur yang saya gunakan adalah pertandingan, sparing, ujian, dedikasi, dan tingkah laku seseorang murid. Yes! Benar saya sangat “old fashioned” dalam hal ini, karena menurut saya dedikasi dan tingkah laku seseorang sangat penting, karena bela diri itu seperti memiliki “super power”. Seseorang bisa mengalahkan orang lain dengan ilmu bela dirinya, “with great power comes great responsibility” karena dari itu saya sangat memperhatikan tingkah laku sebelum menerima atau mempromosikan seorang murid.
Well, sepertinya pembahasan saya sudah cukup panjang. Sekian untuk blog kali ini. Semoga bermanfaat. Dan saran saya, teruslah berlatih, janganlah mudah menyerah, janganlah menjadikan sabuk sebagai tujuan dalam pelatihan. Tetapi berlatihlah dengan sepenuh hati, promosi akan datang dengan sendirinya.
Apabila aktif mengikuti pertandingan dan memenangkannya maka ia akan dengan cepat mendapatkan promosi sabuk. Orang seperti ini ujiannya di “medan tempur” atau sebutan keren saya “let the mat be the judge”. Namun tidak semua orang bisa mengikuti pertandingan dan memenangkannya. Hanya orang-orang berbakatlah yang bisa menggunakan cara ini untuk promosi.
2.Sparing/Rolling
Dalam BJJ, teknik dari sabuk putih sampai dengan hitam sebenarnya sama saja. Yang membedakan adalah efisiensi,timing, dan membaca lawan. Seorang sabuk putih mungkin memerlukan 10 langkah untuk melakukan sebuah kuncian, tetapi seorang sabuk hitam hanya memerlukan 1 langkah. Sebagai seorang pelatih tentunya dapat menilai apabila seseorang ini pantas mendapatkan promosi hanya dengan mengajak si murid sparing.
3.Ujian
Cara ini adalah cara paling umum dan cara tertua dalam semua aliran bela diri. Dalam cara ini, biasanya si murid akan di beritahukan untuk mempelajari semua gerakan yang akan di ujikan. Kemudian akan di tunjuk dan harus memperagakan gerakan tersebut. Dan penilaiannya hanya ada dua. Lulus atau tidak lulus.
4.Subjektifitas
Subjektifitas ini tidak ada tolak ukur pasti. Semua tergantung dari penilaian sang pelatih. Subjektifitas bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada sang pelatih. WHY? karena apabila pelatih tersebut memiliki standart yang rendah, maka kualitas muridnya pun akan kurang.
Saya pribadi, lebih suka menggunakan cara yang terakhir, tolak ukur yang saya gunakan adalah pertandingan, sparing, ujian, dedikasi, dan tingkah laku seseorang murid. Yes! Benar saya sangat “old fashioned” dalam hal ini, karena menurut saya dedikasi dan tingkah laku seseorang sangat penting, karena bela diri itu seperti memiliki “super power”. Seseorang bisa mengalahkan orang lain dengan ilmu bela dirinya, “with great power comes great responsibility” karena dari itu saya sangat memperhatikan tingkah laku sebelum menerima atau mempromosikan seorang murid.
Well, sepertinya pembahasan saya sudah cukup panjang. Sekian untuk blog kali ini. Semoga bermanfaat. Dan saran saya, teruslah berlatih, janganlah mudah menyerah, janganlah menjadikan sabuk sebagai tujuan dalam pelatihan. Tetapi berlatihlah dengan sepenuh hati, promosi akan datang dengan sendirinya.
Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah
In tasal ‘anna fa inna laa nubaali bith-thughaat
Nahnu jundullaahi dauman darbunaa darbul-ubaa
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunyal ‘abiid
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa` hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Kam tadzaakarnaa zamaanan yauma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi natluu-hu shabaahan wa masaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`,
ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa` wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa` war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaah
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan
Jika engkau bertanya tentang kami, maka kami tak peduli terhadap para taghut
Kami adalah tentara Allah selamanya, jalan kami adalah jalan yang sudah tersedia
Generasi Ghuroba'
Generasi Ghuroba'
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Kami tak peduli terhadap rantai para taghut, sebaliknya kami akan terus berjuang
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina
Maka marilah kita berjihad, dan berperang, dan berjuang dari sekarang
Ghurabaa`, dengan itulah mereka merdeka dari dunia yang hina
Generasi Ghuroba'
Generasi Ghuroba'
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari
Betapa sering saat kita mengenang hari-hari bahagia kita
Dengan Kitabullah kita membaca, di pagi hari dan di sore hari
Generasi Ghuroba'
Generasi Ghuroba'
Ghurabaa`, dan kepada selain Allah mereka takkan menunduk
Ghurabaa`, dan mereka telah rela Ghurabaa` sebagai syi’ar dalam kehidupan
Rosullullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat Muslim:
"Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula, Maka berbahagialah orang orang yang asing
بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ ، فطُوبَى للغرباءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim)
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat Bhukari:
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ أَبُو المُنْذِرِ الطُّفَاوِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ
قَالَ حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ
عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا
تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammaad bin Abdurrahman Abu Al Mundzir At Thufawi dari Sulaiman Al A'masy dia berkata , telah menceritakan kepadaku Mujahid dari Abdullah bin Umar RA Dia berkata, "Rosullullah صلى الله عليه وسلم pernah memegang pundak ku dan bersabda: `Jadilah kamu di dunia ini seakan akan orang asing (Ghuroba) atau seorang pengembara`. Ibnu Umar juga berkata; Bila kamu berada di sore hari, maka jangan kamu menunggu datangnya pagi hari, dan bila kamu berada di pagi hari, maka jangan menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu". (HR. Bukhari)
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat Ahmad:
"Berbahagialah
orang orang yang asing (Al Ghuroba), yaitu orang orang shalih yang
berada di tengah orang orang yang berparangai buruk, Dan orang yang
memusuhinya lebih banyak dari pada yang mengikuti mereka" (HR. Ahmad)
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majjah:
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ « إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ
غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». قَالَ قِيلَ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ
النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ. قال الشيخ الألباني : صحيح دون قال قيل
“Sesungguhnya
Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat
kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al Ghuroba)”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah “Mereka yang “menyempal” (berseberangan) dari kaumnya”, jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم (HR. Ibnu Majah)
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat At Tirmidzi:
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ
غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ
النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ صَحِيحٌ
“Sesungguhnya
Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat
kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang
bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnah ku (melakukan Bid'ah)”, jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم (HR. At Tirmidzi)
Pengertian dan penjelasan Al Ghuroba berdasarkan hadits riwayat Thabrani:
فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ :”الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ
“Siapakah orang-orang yang terasing (Ghuroba) itu ya Rasulullah ?
“Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di
saat manusia dalam keadaan rusak (berbuat kerusakan dan melakukan
Bid'ah)”, jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم (HR. Thabrani)
"Berbahagialah orang orang yang asing(Al Ghuroba), yaitu mereka yang mengadakan perbaikan(islah) ketika manusia rusak"
Manusia berbudi luhur adalah manusia yang baik, kehadiranya mampu menciptakan ketentraman, keamanan,kedamaian serta kebahagiaan lahir batin. Yang lemah merasa terlindungi dan yang kuat tidak merasa tersaingi. Manusia bisa di sebut baik bila perbuatan baiknya lebih banyak dari perbuatan buruknya walaupun selisihnya sedikit. Karena tidak ada manusia yang lepas dari dosa kecuali para utusan Tuhan. Mereka memang selalu di jaga dan di jauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela agar di jadikan panutan umatnya.
Budi pekerti bisa menentukan nilai martabat manusia. Dan bila di tilik lebih lanjut berbudi luhur dapat di bedakan menajadi empat macam.
1. Berbudi Luhur kepada Tuhan
Kita harus yakin bahwa Tuhan menaruh embrio manusia kedalam kandungan ibunya, kemudian melahirkan ke alam dunia lalu membesarkan dan memberikan nikmat yang tak terhitung nilainya. Dia pula yang akan mematikan dan membangkitkanya nanti pada hari kiamat. Manusia selalu tergantung kepada Tuhan. Contoh-contoh kecil adalah ketidak mampuan manusia membuat setetes darah apalagi banyak. Ketidakberdayaan manusia menumbuhkan sel-sel daun pada satu pohon apalagi semua pohon. Ketidak tahuan pada bahan bakar matahari apalagi menyediakanya. Ilmu-ilmu jin dan manusia kalo di gabungkan tak akan lebih dari setetes air di samudera luas jika di bandingkan ilmu Tuhan. Maka kalau manusia mau berfikir sejenak pastilah ia merasa terpaksa atau sukarela untuk berterimaksih kepada Tuhan SWT. Ungkapan terimakasih kepada Tuhan bukan sekedar percaya kepadaNya. Bila manusia sekedar percaya tetapi tidak taat maka iblis akan lebih baik. Tentu saja iblis lebih baik, iblis lebih percaya kepada Tuhan dari pada manusia karena iblis pernah berdialog langsung dengan Tuhan tetapi tetap durhaka. Ungkapan terimaksih kepada Tuhan harus dinyatakan dengan perbuatan yaitu dengan memenuhi hak-hak Tuhan supaya Tuhan juga memenuhi hak-hak hambaNya.
2. Berbudi Luhur kepada Orang Tua dan Guru
Walaupun yang melahirkan manusia itu Tuhan (=ibu hanya mampu mengandung saja karena bila sudah tiba saat melahirkan maka ia tak akan mampu menahanya. Atau walaupun seorang ibu sedah ingin melahirkan tetapi kalau Tuhan belum menghandaki maka ia juga tak akan sanggup mengeluarkan bayinya. Bukti kekuasaan Tuhan ini, yaitu adanya ibu-ibu yang melahirkan saat sedang diperjalanan ke rumah sakit atau pada saat yang tidak di kehendaki ibu itu).Namun demikian jangan lupa bahwa ibu selalu menyambut kelahiran bayinya dengan rasa sakit dan darah, bahkan kadang-kadang bayinya di tebus dengan nyawa satu-satunya. Dan setelah putranya cukup umur maka ia menyerahkan kepada guru. Maka dari itu berterimakasih kepada orang tua dan Guru wajib.
3. Berbudi Luhur kepada Diri Sendiri
Memenuhi hak-hak jasmani dan rokhani dengan menjaga kesehatan makan makanan yang baik dan halal, menghindari makanan yang haram, miuman keras ganja , atau obat-obatan terlarang lainnya yang merusak saraf otak.
4. Berbudi Luhur kepada Semua Mahluk
Manusia adalah makluk sosial. Satu sama lain saling membutuhkan. Yang kaya membutuhkan tenaga yang miskin dan yang miskin memerlukan bantuan yang kaya, yang pandai memerlukan yang bodoh dan juga sebalikya.hal ini juga berlaku antar bangsa. Perbuatan baik dan buruk merupakan pantulan dari sifat seseorang. Maka orang yang bijaksana tidak akan merendahkan dirinya sendiri dengan menghina orang lain. Orang bijaksana selalu menjaga martabat dan kehormatanya dengan menyantuni orang lain terutama yang lemah.
Maka kalaupun harus terjadi tindak kekerasan tidak dapat di hindari, haruslah di sadari bahwa pendekar sejati tidak akan berangan-angan untuk menciderai tubuh maupun hati lawan. Kekerasan tadi hanyalah sekedar untuk memberi peringatan saja agar memiliki kesempatan bertaubat. Dan walaupun Tuhan mengijinkan membalas perbuatan yang jahat dengan kejahatan yang seimbang. Namun Tuhan juga menawarkan alternatif lain yang lebih baik yaitu memafkan karena memaafkan itu lebih mendekatkan kepada taqwa. Untuk itulah dalam Persaudaraan Setia Hati Terate mengajarkan kripen atau tehnik kuncian agar dapat mengalahkan lawan tanpa harus melukai apalagi sampai membunuh. Saling membunuh tanpa sebab yang dibenarkan sangatlah berat sangsinya apalagi sesama manusia.
Sedangkan contoh berbudi luhur kepada tumbuh-tumbuhan adalah tidak merusak lingkungan hidup. Bila menebang pohon di hutan harus di adakan reboisasi atau penanaman kembali.,
Berikut Kutipan-Kutipan Mutiara dari PSHT atau petuah-petuah dari PSHT :
1. Sephiro Gedhening Sengsoro Yen Tinompo Amung Dadi Coba" yang berarti sebesar apapun penderitaan apabila diterima dengan hati yang ikhlas maka hanya akan menjadi cobaan semata.
2. "Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimusnahkan dan manusia dapat dimatikan,akan tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih berpegang teguh pada dirinya atau tetap setia pada hati nuraninya sendiri.
3. "Olo Tanpo Rupo Yen Tumandhang Amung Sedelok" yang artinya setiap kesusahan, keburukan, dan masalah-masalah apabila dijalani dengan senang hati maka akan hanya terasa sebentar saja.
4. "Tega Larane, Ora Tego Patine" artinya bahwa orang SH Terate itu berani untuk menyakiti seseorang namun hanya kalau dengan niat untuk memperbaiki bukan merusak.
5."Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan" artinya adalah sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi.
6. "Suro Diro Joyo Diningrat Lebur Dening Pangastuti" artinya segala kesempurnaan hidup ( Kesaktian, Kepandaian, Kejayaan, dan Kekayaan ) dapat diluluhkan dengan budi pekerti yang luhur.
7. "Satria Ingkang Pilih Tanding" artinya adalah Kestria yang hanya mau melawan orang yang mampu menghadapinya, bukan orang yang lebih lemah daripadanya.
8. "Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake" artinya berani tanpa harus ada kawan dan dapat menang tanpa harus merendahkan lawan.
9. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan" artinya jangan sakit hati bila musibah menimpa dirinya dan jangan bersusah apabila kehilangan sesuatu.
10. . "Ojo Seneng Gawe Susahe Liyan, Opo Alane Gawe Seneng Liyan" arinya jangan suka membuat orang lain bersusah dan tiada buruknya membuat bahagia orang lain.
11. "Ojo Waton Ngomong Ning Yen Ngomong Sing Gawe Waton" artinya jangan hanya sekedar bicara, namun apabila bicara harus bisa dibuktikan.
12. "Ojo Rumongso Biso Ning Sing Biso Rumungso" artinya janganlah merasa paling bisa namun sadar diri atas apa yang dapat dilakukan orang-orang disekitar kita.
13. "Ngunduh Wohing Pakarthi" artinya adalah siapa yang berbuat pasti akan menerima hasil perbuatanya.
Itulah Kutipan-Kutipan Mutiara dari PSHT atau petuah-petuah dari PSHT. Semoga bermanfaat
Seorang bertanya mengapa dengan kekerasan, tendangan, pukulan jika kalian ingin mengSHkan orang?
ia menjawab, “tak akan jadi pedang yang tajam menebas pohon yang merintang dijalan tanpa besi yang disepuh dan ditempa.
tak semua pukulan dan tendangan adalah pendidikan kekerasan, kami tahu
untuk jadi kuat, tulang dan pikiran serta hati mereka harus selaras
lepas dari program otak yang melemahkan mental karena mengakses rasa
takut.
Tendangan dan pukulan itu bak terpaan sang empu untuk besi sampai menemukan inti besi yang tajam. Sampai mereka menemukan inti diri yang berkilau tajam.
Seberapa tajam mereka, sementara setia hati itu tentang kelembutan?
ia menjawab “lihatlah lembutnya angin, tapi kelembutanya bisa membuat ombak dan meruntuhkan pohon yg kokoh.
apa mereka hebat?
ya mereka hebat,
Kebal senjata bukanlah sakti, tapi rasa takut mati yang bermantra. Sementara kami sudah berkalung mori.
Memenangkan perkelahian tak selamanya disebut kejayaan, tapi kebanggan yang menjadi racun karisma kehormatan budi pekerti. Sementara kami mampu mengalah menyerakan kepuasan merasa menang pada lawan agar tiada permusuhan.










